Memahami Obesitas dengan Empati, Stigma Hanya Memperburuk Kondisi

Memahami Obesitas dengan Empati, Stigma Hanya Memperburuk KondisiStop TB Partnership ID6 hari yang lalu2 menit membacaIlustrasi orang obesitas.
Kreator asal Surabaya, Steven Wongso, dikritik banyak pihak setelah melontarkan hinaan kepada orang gemuk. Dia dianggap menyakiti mereka yang sedang berjuang melawan obesitas, usai menyamakan orang gemuk dengan anjing yang menghabiskan makanan sebanyak apa pun di hadapannya. Tapi, benarkah obesitas sesederhana "tidak bisa menahan makan" seperti yang diucapkan Steven?Stop TB Partnership Indonesia menyayangkan pernyataan tersebut. Memang benar bahwa pola makan merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap obesitas. Namun, obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh makanan semata. Ada berbagai faktor lain yang turut berperan, seperti genetik, kurangnya aktivitas fisik, pola hidup tidak sehat, kondisi medis tertentu, hingga aspek psikologis. Dengan demikian, obesitas tidak dapat disederhanakan sebagai pilihan pribadi semata. Penting untuk menggunakan narasi yang lebih bijak dan edukatif dalam menyampaikan informasi kepada publik, alih-alih menggunakan kata-kata yang berpotensi menyudutkan atau merendahkan individu.9 Juta Orang Meninggal Akibat ObesitasSeseorang bisa dikatakan obesitas jika lingkar pinggang laki-laki > 90 cm dan perempuan > 80 cm. Tekanan darah ≥ 130/85 mmhg, gula darah saat berpuasa > 100 mg/dL. Terakhir, kadar kolesterol, yakni trigliserida mencapai ≥ 150 mg/dL, serta HDL < 40 mg/dL untuk laki-laki dan < 50 mg/dL untuk perempuan.
Jika melihat laporan WHO tahun 2025, 1 dari 8 orang di dunia mengalami obesitas. Sejak 1990, obesitas pada orang dewasa meningkat 2 kali lipat. Sementara pada remaja, angkanya meningkat sampai 4 kali lipat. WHO juga telah menetapkan obesitas sebagai masalah epidemi karena sudah lebih dari 9 juta orang meninggal sejak tahun 2017.
Setiap harinya, mereka yang mengalami obesitas harus berurusan dengan masalah fisik hingga psikologis. Saat tertidur, kebanyakan dari mereka mendengkur, sesak napas, atau bahkan sulit tidur. Saat beraktivitas ringan sekalipun, tak jarang mereka mudah lelah, nyeri sendi, nyeri punggung, hingga iritasi terutama di bagian lipatan kulit. Saat berinteraksi di lingkungan sosial, mereka sering kali tidak percaya diri, stres, bahkan depresi akibat penampilan fisiknya.
Hinaan yang dilontarkan Steven dan mungkin masih banyak orang di luar sana, memperkuat stigma terhadap orang obesitas. Label "malas" atau "tidak bisa menjaga diri" membuat mereka merasa tidak diterima masyarakat. Akibatnya, kesehatan mental memburuk sampai dalam beberapa kasus memicu emotional eating.
Empati, Bukan MenghakimiSebagai bentuk dukungan untuk teman-teman yang sedang berjuang melawan obesitas, hindari komentar yang merendahkan atau bercanda soal tubuh karena sejatinya memberi nasihat tanpa diminta sering melukai seseorang. Sebaliknya, tunjukkan empati dan ajak mereka untuk hidup sehat bersama. Dukungan dan empati jauh lebih efektif dalam membantu seseorang menjalani hidup yang lebih sehat.
Kunci pencegahan obesitas adalah gaya hidup yang sehat. Kemudian, upayakan latihan fisik dan memenuhi nutrisi dengan baik agar tubuh lebih bugar, juga terhindari dari penyakit. Sesuai anjuran WHO, konsumsi berbagai macam sayur dan buah sebanyak 400 gr per hari, konsumsi makanan dan minuman rendah lemak, gula, juga garam, serta hindari minuman beralkohol.
Leave a Comment
Comments (0)
No comments yet.
OTHER PUBLICATIONS

Kreator asal Surabaya, Steven Wongso, dikritik banyak pihak setelah melontarkan hinaan kepada orang gemuk. Dia dianggap menyakiti mereka yang sedang berjuang melawan obesitas, usai menyamakan orang gemuk dengan anjing yang menghabiskan makanan sebanyak apa pun di hadapannya. Tapi, benarkah obesitas sesederhana "tidak bisa menahan makan" seperti yang diucapkan Steven?Stop TB Partnership Indonesia menyayangkan pernyataan tersebut. Memang benar bahwa pola makan merupakan salah satu faktor utama yan

IT OPERATIONS & INFRASTRUCTURE OFFICER for the anticipated Life-saving Facility and Community-based Service Delivery Support for Tuberculosis (FCSDS) FULL-TIME STAFF
About STPIStop TB Partnership Indonesia (STPI), formally known as Yayasan Kemitraan Tuberculosis Indonesia, has been at the forefront of civil society efforts to accelerate TB elimination in Indonesia since 2018. Over the years, STPI has established itself as a key partner to the Government of Indonesia, bringing together communities, civil society, and stakeholders to strengthen the national TB response. Drawing on its extensive experience, reach, and technical expertise, STPI has earned the tr

Pada dasarnya, penyakit menular bernama Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Umumnya TB diobati selama 6 bulan, namun pada kondisi tertentu bisa jadi lebih lama, seperti adanya komorbid Diabetes Mellitus (DM).Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengganggu metabolisme tubuh, terutama adanya gangguan pada organ pankreas dalam menghasilkan insulin untuk mengontrol gula darah. Menurut International Diabetes Federation, tahun 2024 jumlah kasus diabetes pad

